Selamat Datang Di Zona Kesatuan 48

------Joyful Kawaii Try To Be The Best for JKT48------

------Joyful Kawaii Try To Be The Best for JKT48------

Wednesday, December 3, 2014

< Sebelumnya12 / 2014Selanjutnya >
MingguSeninSelasaRabuKamisJumatSabtu
12
3
4
5
6
7
891011
1213
14
151617
18
1920
21
22
232425
2627
28
293031

Sosok anak kecil (8 thn) berkaca mata yang tinggal di Bekasi itu terkesan tenang dan pendiam. Tapi siapa sangka di balik ketenangannya itu ia menyimpan sebuah kisah penuh misteri. Awal mula keanehan itu seakan merupakan suatu kelebihan, karena si anak bisa melihat jin yang tidak terlihat oleh orang yang bersamanya. Namun, perjalanan selanjutnya ternyata melahirkan suatu penderitaan yang beruntun yang harus ditanggung oleh “si anak indigo” itu.
Dirumah orangtuanya yang asri, merangkap sebagai tempat pembelajaran anak-anak, Majalah Ghoib berbincang santai dengan kedua orangtuanya. Inilah penuturannya.
Terus terang keluarga saya secara turun temurun, senang mempelajari ilmu kanuragan. Mulai dari buyut, kakek, hingga ayah. Bedanya, ayah tidak suka menggunakan kepandaiannya dan tidak mau mendalaminya. Setiap orang yang mempelajari ilmu semacam ini suka ataupun tidak, tentu sadar bahwa ilmunya itu bisa turun kepada anak-anaknya. Dan itulah yang terjadi pada keluarga saya. Hingga sekarang. Saat ini saudara saya masih ada yang memperdalam kemampuannya, sampai bisa menghilang dair pandangan orang lain. Hal ini sangat disadari ayah dan beliau tidak ingin saya mewarisi ilmunya ini, sehingga beliau berusaha keras melindungi saya yang kebetulan adalah anak yang paling disayanginya. Disamping itu, saya merupakan satu-satunya anak perempuan di keluarga.
Meskipun saya tidak mewarisi ilmu itu, bukan berarti saya bisa bernafas dengan lega. Sebab saya juga khawatir ilmu itu akan terwarisi oleh anak saya, karena menurut hitungan uwak saya, ilmu itu akan diwarisi oleh Andi (nama samaran), anak saya yang kedua. Saya masih belum menyadarinya hingga suatu hari saya menderita sakit. Temperatur panas badan saya sangat tinggi. Dan keesokan harinya saya langsung berobat ke dokter. Saya terperangah, seakan tidak percaya ketika mendengar penjelasan dokter. “Ibu mengidap penyakit kelenjar getah bening dalam taraf yang sudah akut. Ibu harus menjalani operasi”. Demikian dokter menjelaskan hasil pemeriksaan laboratorium kepada saya dan suami. Seakan tersambar Guntur di siang hari, saya tidak percaya. Bagaimana mungkin demam yang baru saya derita satu hari dinyatakan sudah akut dan harus dioperasi. Padahal sebelumnya saya tidak merasakan gejala orang sakit kelenjar getah bening. Saya hanya pasrah, “Kalau sakit itu merupakan ujian, saya harus bersabar.” ltu saja yang membuat saya terus semangat beribadah.
Namun, untuk menjalani operasi kelenjar getah bening terus terang saia saya masih belum siap, dan secara kebetulan ada beberapa teman yang memberikan informasi bahwa di Sukabumi ada pengobatan alternatif yang terkenal. Akhirnya dengan ditemani suami saya berobat ke sana. Sepulang berobat saya dikasih rajah yang harus direbus dengan cara-cara tertentu dan diminum selama empat puluh hari. Terus terang, saya tidak tahu apakah ada kaitan antara sakit yang diderita Andi dengan peristiwa yang saya alami ini, sebab kejadiannya memang susul menyusul.
Muncul keanehan-keanehan
Andi mulai mengalami perubahan yang diluar nalar. Bagaimana tidak. la mulai bisa melihat sesuatu yang ghoib, sesuatu yang tidak dilihat oleh orang-orang yang bersamanya, meski orang itu adalah kami, orangtuanya sendiri. “Bapak jangan duduk di kursi itu, karena sudah ada yang duduk di sana nanti bapak menyakitinya,” kata Andi kepada ayahnya yang hendak duduk di sebuah kursi. Kejadian seperti ini seringkali berulang. Bukan hanya di rumah tapi juga di sekolah. Andi sering melihat makhluk lain yang menakutkan di sekolah. Sehingga guru-gurunya di sebuah sekolah TK saat itu heran, mengapa Andi tidak mau bermain dengan teman-temannya, tapi sering mengikuti gurunya kemana pun dia pergi.
“Pak, Bu. Sekarang apa yang dialami Andi sehingga ia harus mengikuti gurunya kemana-mana?” tanya seorang gurunya kepada kami. Ketika hal itu saya tanyakan kepada Andi, ia menjawab, “Soalnya di sekolah itu banyak ninja. Kalau Andi di ayunan, ia ikut di ayunan. Kalau Andi di perosotan ia ikut di perosotan. Saya takut. Orang-orang asing itu juga terkadang ada di antara teman-teman Andi”, katanya. Terus saya meminta Andi mendiskripsikan “Pokoknya seperti ninja. Hitam-hitam,” lanjut Andi. “Aku tidak mau lagi sekolah, sebab orangnya terlalu banyak. Dan orang itu tidak Andi kenal”. Peristiwa ini terjadi pada tahun 2000, saat Andi masih sekolah TK kelas B.
Andi semakin sering melihat anak kecil berkepala botak dan berkulit hitam. Bahkan saat selanjutnya, ia juga melihat wanita tua. Setelah tiba di rumah dia langsung berteriak, “Tuh kan, ia sekarang sudah menunggu.” “Siapa yang menunggu?” Tanya saya. Sebab saya tidak melihat siapapun di rumah. “ltu, nenek tua yang sering Andi lihat di sekolah,” jawab Andi. “Bagaimana rupanya?” saya merasa penasaran juga. “Nenek berambut panjang,” Andi mencoba menjelaskannya.
Andi tidak mau main dengan teman-temannya ketika di sekolah. Padahal selama ini, dia anak yang biasa-biasa saja. Di rumah, dia mulai mempunyai kebiasaan aneh. Dia sibuk dengan tembok, kelihatan asyik ngobrol sendiri di tembok. Kadang-kadang, kalau sedang bermain dia banyak bebicara, seperti ada temannya. Padahal dia cuma sendirian. Apa yang diobrolkannya pun tidak jelas. Terkadang tanpa bicara hanya dengan bahasa isyarat, seakan di depannya memang ada anak seusianya dan mereka kelihatan asyik sekali bermainnya. Kalau kita menemaninya. Dia akan diam, lalu memandang kita dengan raut wajah ketakutan. Setelah kita pergi, dia kembali asyik dengan mainannya.
Suatu ketika saya bilang, “Andi, kalau mama lagi ngajar, kamu main ya, sama teman-teman”. Dia malah tidak mau, “Tidak usah, suruh pulang saja, Andi berani kok main di rumah sendiri”, kata Andi.
lntensitas gangguan yang dialami Andi juga semakin sering, bahkan wujud yang dilihatnya juga semakin aneh. Wujud yang tidak lazim. Kali ini, yang dilihat orang bertanduk, sangat menakutkannya. Hingga suatu saat, ketika Andi sedeang di kamar, dia meloncat kepada ayahnya sambil berteriak, “Dia meloncat lewat jendela dan sekarang ia mengganggu Andi”. Hal itu sudah keterlaluan dan mengganggu Andi.
Ternyata, apa yang diderita Andi itu semakin kuat seiring dengan semakin seringnya saya berobat ke Sukabumi hingga empat kali. Saya berpikir, “Kok Andi begini, kok saya begini?” Saya juga sering bermimpi melihat dua orang jelek, persis seperti yang diceritakan Andi. Dari mimpi itu saya membayangkan wajah orang yang sering dilihat Andi. Memang menakutkan.
Masalah bertambah
Setelah kondisi Andi semakin mengkhawatirkan, ibu menyuruh saya untuk membawanya ke uwak, karena ia juga bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat orang lain. Agar Andi diobati. Sepulang dari uwak, kemampuan Andi tidak berkurang, bahkan semakin tajam. Uwak pernah memandikannya dengan air kembang tujuh rupa dan meminta kain hitam. Kemudian uwakmembacakan do’a-do’a pada kain hitam yang dicelupkan di air. Setelah itu Andi disuruh meminumnya.
Ternyata, uwak semakin mengasah ketajaman penglihatan Andi. Misalnya ketika ada orang yang punya masalah, uwakminta Andi untuk menyebutkan berapa jin yang mengganggu orang itu. lstilahnya, Andi menjadi penyambung antara uwakdengan jin. Ya, kalau ada pasien yang datang, uwak menyuruh Andi untuk melihatnya.
Demikian juga ketika uwak menjenguk saya, pada saat sakit saya kambuh kembali, “Andi, coba lihat pada mama itu ada siapa?” kata uwak dengan tenang. Akhirnya Andi yang menyebutkannya.
Peristiwa ini menyadarkan saya bahwa apa yang dilakukanuwak itu tidak benar. Saya ingin Andi sembuh dari gangguan yang menyakitkan ini. Saya ingin Andi menjadi normal seperti anak-anak lain yang menikmati dunianya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kemampuan Andi semakin dipertajam. Sehingga Andi bisa melihat makhluk yang lain, bukan hanya anak kecil berkepala botak dan kedua orang tuanya. Dia juga melihat ada dua monyet di dalam rumah neneknya, atau ada sesuatu yang ditaruh di bawah pohon kelapa. Andi tahu semuanya. Terus terang, uwak saya itu memang punyakhadam dari jin.
Secara diam-diam, uwak memberi kalung kepada Andi. Setelah saya tahu bahwa ada sesuatu yang dibungkus di dalam bandul kalung itu, dan saya yakin itu adalah rajah. Segera, saya cabut kalungnya dan saya buang. Terang saja uwak marah melihat barang titipannya saya buang. “ltu pendamping anakmu” alasan uwak. “Kalau uwak bilang itu sebagai pendamping, sayatidak setuju”, jawab saya dengan tidak kalah sengitnya.
Waktu kalung itu saya buang, Andi kelihatan mulai berubah. Dia bisa menghabiskan makanan yang secara logika tidak mungkin anak seumur Andi sanggup menghabiskannya. Karena makanan yang berupa kue itu, saya siapkan untuk kami berlima, seluruh anggota keluarga. Selain itu, cara makannya juga tidak wajar, misalnya dengan membuka lebar jari-jarinya dan mengambil nasi yang cukup banyak untuk ukuran mulutnya. la juga makan dengan tangan kiri. Sampai akhirnya saya bertanya-tanya. “lni anakku atau bukan, ya?” Bukan hanya itu, Andi juga bisa menghabiskan daging ayam separuh. Makannya juga aneh. Dengan mengeluarkan suara dan matanya kelihatan beringas. Selesai makan, saya bertanya, “Andi, maaf ya. Mama mau tanya. Andi tadi makan ayamnya kok banyak sekali?” “Tidak, Andi tidak makan”. Jawabnya, la tidak sadar bahwa makanan itu ia yang menghabiskan semuanya. la menyangkalnya dengan ngotot. Padahal saya meihat sendiri cara dia makan tadi.
Ucapannya juga sudah aneh-aneh, “Ma, tadi ada bapaknya ke sini”, katanya “Anaknya itu di sini, ma. Sekarang ibunya yang berambut panjang, sedang mengejar-ngejar anaknya, disuruh pulang,” lanjut Andi. Rupanya ia diikuti oleh anak jin yang berkulit hitam sejak dari sekolah. “Tapi anaknya tidak mau,” katanya. Saya tanya lagi, “Kenapa tidak mau?” “Dia mau main sama Andi,” jawab Andi.
Semakin lama keanehannya semakin bertambah. la makan dengan cara tertentu. Bila sudah sampai hitungan ke sembilan ia berhenti makan, walau makanan itu belum habis. Ketika makan pisang, misalnya. Setelah sampai hitungan sembilan dia langsung berhenti. Makan apapun akan berhenti setelah sampai pada hitungan sembilan. Hingga bapaknya pun terkadang menggoda, “Andi sudah sampai sembilan, belum?” jadi malah kita jadikan gurauan.
Tapi saya semakin berpikir “Kok aneh ya”. Dalam kondisi seperti itu Andi malah sering berani menggoda gurunya, “liiih, di belakangnya ibu ada temannya, kan?” Sampai akhirnya saya lebih khawatir ketika dia mulai diajak beberapa teman saya ke rumahnya dan disuruh untuk melihat apakah ada sesuatu yang aneh atau tidak di rumahnya. “Andi, coba lihat. Apa di rumah ini kosong apa nggak dari makhluk aneh?” pintanya.
Terapi Ruqyah Syar’iyyah
Sebulan kemudian, ia berubah drastis. Sekarang menjadi penakut, dan tidak pernah lagi menyebut melihat sesuatu. Tapi malah ketakutan, “Ma, Andi takut, temanin Andi, ma!,” akhirnya saya tanya, “Kamu lihat yang menyeramkan, ya?” Saat itu, Andi mulai tidak mau mendiskripsikan apa yang dilihatnya. “Pokoknya, Andi takut. pokoknya, Andi takut”. Dari situ saya mulai berpikir untuk mencari pengobatan buat Andi. Banyak orang yang menyarankan ke sana kemari. Hingga akhirnya saya membaca Majalah Ghoib. di samping itu saya juga mulai mengikuti kajian kelslaman di sebuah lembaga lslam. Dari sini, Alhamdulillah saya menemukan jalan.
Singkat kata, saya langsung tertarik dengan pengobatan ruqyah ini. Sebab saya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu. Akhirnya saya, suami dan Andi pergi ke kantor Majalah Ghoib untuk terapi ruqyah. Saya ingat, saat itu kami harus menunggu giliran, sambil istirahat di halaman rumah. Ketika sedang menunggu giliran, Andi sudah mulai gelisah dan menghabiskan semua bekal makanan yang saya bawa. Waktu disuruh masuk Andi juga tidak mau. Akhirnya saya bujuk. Setelah diputarkan kaset ruqyah, Andi berontak dan lari. Lalu ia ditenangkan oleh Ustadz Musyaffa. Tak lama kemudian Andi ditangani oleh Ustadz Junaedi dan Ustadz Fadhlan. Saat itulah Andi mulai tenang.
Kebetulan, saat itu ada seseorang yang sedang diruqyah dan kelihatan ada reaksi dari jin yang di tubuhnya. Ustadz Fadhlan berkata. “Andi, lihat! di depanmu ada apa?”. “Andi tidak melihat apa-apa. Andi cuma melihat orang berbaring saja”. Jawab Andi. “Ya sudah, berarti jin yang bersama kamu sudah hilang.” komentar ustadz Fadhlan. Saya bersyukur kepada Allah dan berterima kasih atas pertolongan tim ruqyah MajalahGhoib, karena sejak saat itu, Alhamdulillah Andi sudah tidak bisa melihat jin.
Setelah proses ruqyah Andi selesai, saya juga minta diruqyah. Barangkali saya juga mengalami gangguan yang sama. Ternyata benar, saya juga kemasukan jin. Waktu itu, ustadz Fadhlan sempat bilang “Bu, mungkin ini keturunan”. Saya memang belum sempat cerita tentang latar belakang keluarga saya. Sebulan kemudian saya datang lagi. Saat itu saya melihat Andi sudah mulai berubah. la bilang “Andi kan tidak sakit, Andi kan tidak seperti orang itu, Andi kan tidak terganggu jin”. Saya pikir anak saya ini masih kecil dan tidak bisa dibawa ke pengobatan masal seperti ini. Akhirnya saya bilang kepada ustadz Junaedi bahwa saya ingin belajar ruqyah dengan tujuan saya bisa menangani anak saya sendiri. Dalam perjalanan selanjutnya, Alhamdulillah, saya bisa meruqyah dan bisa membantu orang lain yang merasakan derita gangguan jin.
Memperoleh wawasan baru
Untuk menghilangkan gangguan jin secara total pada usia belum baligh, memang agak sulit. Oleh karena itu, saya berusaha membangun benteng yang melindungi kami dari gangguan jin. Saya mencoba mengajak Andi ikut berdzikir. Pada bulan pertama dia bisa ikut berdzikir, tapi pada bulan kedua saya lihat reaksinya sudah berubah. Dia sudah mulai tidak mau shalat, saya suruh berdzikir juga tidak mau. Akhirnya, saya mengajaknya menemui ustadz Junaedi. Beliau bilang, “lbu, pertahanannya bukan di Andi, pertahanannya pada ibu dan bapak. Karena Andi masih belum punya pertahanan apa-apa dan jangan dipaksa”. Dari sini saya semakin rajin belajar agama dan rutin ibadah.
Saya juga tidak pernah menyerah menghadapi kasus Andi, akhirnya saya memutuskan untuk berbicara terbuka kepada Andi, akan problem yang dihadapinya. Saya mengajaknya bicara dengan bahasa anak-anak, “Andi kondisi kamu itu sebenarnya begini lho, kamu itu diganggu, kamu itu harus punya pertahanan seperti ini”. Dengan pendekatan seperti itu, Andi mulai mau berdzikir kembali. Cuma memang prosesnya itu sangat memberatkannya. Kadangkala saya menemani Andi berdzikir, saya bilang, “Andi berdzikir satu lingkaran saja, tiga puluh tiga kali”. Dengan membaca ,”Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah. Tiada sekutu bagi-Nya. Dan bagi-Nya seluruh kekuasaan dan segala puji. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Baru berdzikir sekitar dua puluh kali, Andi sudah jatuh terjungkal. “Mama, Andi tidak kuat”. Katanya. “ltu bukan Andi, Andi harus kuat, Andi harus melawan”. Saya mencoba menguatkannya. Akhirnya ia berdzikir dengan terbata-bata. “Ya Allah lindungilah anak saya,” saya berdoa dengan cucuran air mata membasahi pipi. Kemudian saya menelpon Ustadz Junaedi. Kata beliau, “lbu jangan terlalu memaksa, kalau Andi bisa berdzikir sepuluh kali, ya sepuluh kali saia. Kalau bisa dua puluh, Ya puluh kali saja. Jangan terlalu dipaksa”.
Akhirnya, saya perlonggar lagi dan saya biarkan dia berdzikir sendiri. Tapi yang terjadi justru diluar di luar perkiraan saya. Dzikirnya sudah berubah. Dia berdzikir “Golajong ….” Lafadz dzikir itu aneh dan tidak saya pahami, hampir semua kata-katanya itu tidak terlepas dari huruf G. Akhirnya saya perhatikan kembali dan saya dengarkan dengan seksama. Eh, ia berdzikir seperti yang saya ajarkan. Ketika tidak saya perhatikan, dia kembali berdzikir dengan dzikir yang aneh. Akhirnya saya pikir ini hanya masalah tarik ulur saja. Dan saya berpikir, “Saya harus memperkuat diri sendiri terlebih dahulu, kemudian Andi”.
Di samping itu, saya memutar kaset ruqyah dua puluh empat jam tanpa jeda. Awalnya Andi bilang, “Ma, matiin deh, kepala Andi pusing.” Saya tidak menuruti kemauannya, kaset itu tetap saya putar sampai akhirnya Andi marah lalu mematikan kaset. Saat selanjutnya, saya menangkap Andi menggendongnya, lalu saya meruqyah-nya. Hingga Andi menangis. Saya membiarkannya menangis, asalkan gangguan itu hilang. Tak terasa saya pun menangis tersedu-sedu, meskipun demikian saya harus terus membacakan ayat ruqyah. Sungguh, saya tidak tega melihat penderitaan yang dialami buah hati saya yang masih kecil. Rasanya sungguh berat derita yang ditanggungya. Padahal dia tidak tahu masalah apa-apa. Saya berharap ini adalah cobaan terakhir yang dialami keluarga saya. Dan tidak ada orang lain yang mengalami nasib seperti anak saya ini.
Mungkin karena kaset itu sering diputar, sehingga Andi sendiri sudah hafal bacaan ruqyah itu. Dan saat ruqyah berikutnya, karena memang membiasakan meruqyahnya, setelah saya membaca beberapa ayat Andi langsung meneruskannya sendiri. Lalu saya menelpon tim ruqyah, saya sampaikan apa yang terjadi. “Nggak apa-apa ibu, semoga itu Andi sendiri yang membaca,” kata Ustadz Junaedi. Sampai suatu ketika Andi bilang, “Mama, boleh nggak aku belajar sama ustadz Fadhlan saya mau bisa ruqyah”. Lalu saya tanya “Apa kamu bisa hafal bacaan-bacaan ruqyah?” Akhirnya dia membacanya dan memang dia hafal. Dia juga sering melihat saya meruqyah.
Sebulan lalu saya sempat membawa Andi ke tim ruqyah Majalah Ghoib. Karena sekarang serangan jin itu terjadi di waktu ashar atau maghrib. Saya tidak tahu sebabnya, tiba-tiba Andi menangis, tapi tidak mengeluar-kan air mata. Terkadang mengamuk dengan tanpa sebab. Setelah saya tanya, “lngatkah kalau Andi tadi nangis?” “Nangis?” katanya dengan nada tidak percaya. “Tadi kan Andi digendong mama”.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sekarang, setelah ashar Andi sudah tidak boleh keluar ia harus sudah ada di dalam. Dan kita selalu memutar kaset muratal. Selain itu sehabis Maghrib saya berusaha meruqyah Andi, ia gelisah dan mengeluarkan keringat sebesar jagung. Sungguh penderitaan yang berat.
Alhamdulillah, pengaruhnya itu sangat baik, sekarang ini Andi kalau dzikir sudah tidak harus disuruh lagi. Bahkan bilang, “Habis maghrib mama harus mengetes hapalanku”. Begitu juga kalau akan pergi sekolah dia juga minta dibacakan do’a, “Ma, tolong bacakan do’a untuk Andi”. Do’a-do’a yang sering saya bacakan untuk Andi adalah “Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari keburukan makhluk ciptan-Nya”. Sebenarnya dia sendiri sudah hapal do’a-do’anya, tapi rupanya do’a saya itu terasa lebih menenangkannya.
lnilah sepenggal cerita perjalanan saya dan buah hati saya. Semoga hal ini bisa dijadikan pelajaran dan bahan renungan oleh siapapun. Terutama saudara dan kerabat saya yang masih menekuni ilmu warisan tersebut. Teriring do’a semoga Allah menjadikan kita orang yang mau mengikuti kebenaran walau pahit rasanya

Jessica Veranda




Nama
Jessica Veranda
Tanggal Lahir
Golongan Darah
O
Horoskop
Leo
Tinggi Badan
165cm
Nama Panggilan
Ve

Tuesday, September 9, 2014

PENGEMBANGAN INDUSTRI PETERNAKAN SAPI POTONG

Perbibitan
kesulitan dalam memperoleh bibit sapi potong lokal secara kuantitas maupun kualitas secara berkelanjutan merupakan masalah utama yang harus segera diselesaikan. Kesulitan ini tampaknya lebih disebabkan oleh banyak faktor yang saling terkait. Mencari permasalahan tentang kesulitan tersebut sudah banyak dilakukan dan sering pula didiskusikan, tapi aksi untuk menyelesaikan kesulitan tersebut kurang/ belum dilakukan. Oleh karena itu, secara umum beberapa kebijakan yang seharusnya segera diimplementasikan dalam kegiatan aksi mutlak diperlukan.
Beberapa upaya pengembangan usaha perbibitan adalah:
1. Penentuan jenis ternak sapi.
Di Indonesia, berbagai jenis ternak sapi yang ada diklasifikan menjadi dua kelompok besar (Simanjuntak, 1999). Seluruh sapi di dalam masing-masing kelompok berpotensi dijadikan sebagai ternak bibit yang tentu saja didasarkan pada berbagai faktor. Pertama, kelompok sapi asli yang meliputi: sapi Bali, sapi Madura, sapi Sumba Ongole (SO), sapi Peranakan Ongole (PO), sapi Pesisir, sapi Aceh, dan sapi Hissar. Kedua, kelompok sapi persilangan dengan bangsa sapi import yang meliputi: sapi Simmental, sapi Limousin, sapi Angus, sapi Brahman, sapi Brangus.
Pada umumnya, keunggulan yang dimilik oleh sapi lokal Indonesia adalah: daya adaptasi tinggi; tingkat kesuburan tinggi, persentase karkas lebih tinggi, dapat digunakan sebagai tenaga kerja; dan daya tahan terhadap caplak. Adapun sapi persilangan biasanya unggul dalam hal: pertumbuhan bobot badan yang tinggi; dan mempunyai kualitas daging lebih baik. Keduanya juga memiliki kelemahan. Kerugian bila menggunakan sapi lokal sebagai ternak bibit
K
Dr. Ir. Muladno, MSA
adalah: kematian pedet relatif tinggi; masih memperlihatkan sifat liar, rentan terhadap penyakit tertentu; badannya kecil; dan pertambahan bobot badan relatif rendah. Namun bila menggunakan ternak bibit import, kerugiannya meliputi: tidak tahan terhadap kondisi lingkungan jelek dan rentan terhadap berbagai penyakit yang ada di daerah tropis.
Yang perlu diperhatikan dalam penentuan jenis ternak tidak hanya berdasarkan sifat-sifat kuantitatif yang menguntungkan saja tetapi juga dipertimbangkan sifat kualitatifnya seperti warna sapi.
2. Perbaikan mutu ternak bibit
Untuk mendapatkan ternak bibit yang baik, upaya meningkatkan mutu ternak bibit khususnya bila menggunakan ternak lokal perlu dilakukan. Di dalam program pemuliaan, ada dua pendekatan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu tersebut, yaitu: seleksi dan persilangan. Pendekatan pertama (seleksi) untuk sifat kuantitatif yang bernilai ekonomis (seperti pertambahan berat badan, efisiensi penggunaan pakan, dan kualitas karkas) harus dilakukan di suatu wilayah yang populasi sapinya sejenis dan dalam jumlah banyak. Kondisi semacam ini harus dicapai untuk memperoleh tingkat keberhasilan yang tinggi dalam sistem seleksi, karena semakin tinggi jumlah ternak dalam suatu populasi, intensitas seleksinya juga semakin kuat sehingga ternak yang terseleksi benar-benar bermutu tinggi. Seleksi juga penting diterapkan dalam konteks pemilihan ternak betina pengganti (replacement stock) bagi ternak betina berkualitas buruk dan atau ternak betina tua. Pendekatan kedua (persilangan) akan sangat efektif dilakukan melalui perkawinan antara ternak lokal yang terseleksi untuk sifat-sifat kuantititaf yang diinginkan dengan ternak import yang juga telah diseleksi berdasarkan sifat yang diinginkan. Ini dapat dilakukan melalui perkawainan alam, tetapi akan lebih efisien dengan memanfaatkan teknik inseminasi buatan. Walaupun aplikasi bio-teknologi (baik reproduksi maupun rekayasa genetik) dalam pening-katan produktivitas ternak tampak semakin menjajikan, tingginya biaya pengoperasian masih menjadi kendala untuk menggunakan teknologi tersebut. Dalam banyak hal, penerapan bioteknologi masih sangat memerlukan peran dan bantuan pemerintah pusat.
Program pemuliaan tersebut akan dapat berjalan dengan baik apabila didukung dengan sistem pencatatan yang tertib, sistematis, dan berkesinambungan. Sistem pencatatan difokuskan pada sifat-sifat kuantitatif penting dari ternak dan dibuat sedemikian rupa sehingga dapat diterapkan secara mudah oleh peternak, pegawai pemerintah dan siapapun yang dilibatkan. Keterlibatan asosiasi, kelompok peternak, perguruan tinggi atau lembaga penelitian sangat diperlukan untuk keberhasilan dalam pencatatan tersebut.
Kumpulan Pemikiran
3. Perbanyakan jumlah ternak bibit
Penyediaan ternak bibit lokal sebagai populasi dasar dapat dipenuhi melalui pengambilan ternak dari berbagai wilayah yang dikenal sebagai kantong-kantong ternak berpopulasi tinggi atau diperoleh melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) milik pemerintah seperti Balai Inseminasi Buatan (BIB) Singosari dan BIB Lembang. Dari ketersediaan ternak pilihan ini, kemudian dilakukan program pemuliaan di suatu kawasan yang melibatkan petani peternak dalam suatu sistem pembibitan Village Breeding Center (VBC). Sistem ini akan lebih efektif apabila dalam pelaksanaannya dikelola melalui program kemitraan antara swasta (sebagai pemodal), peternak (sebagai pelak-sana) dan pemerintah/perguruan tinggi/lembaga penelitian/asosiasi (sebagai pembina). Program semacam ini juga diharapkan agar seluruh ternak bibit yang dihasilkan dari program pemeuliaan ini dapat secara berkesinambungan digunakan sebagai bahan dasar untuk perbanyakan sehingga pemenuhan kebutuhan ternak bibit yang berkualitas secara terus menerus dapat terjamin.
4. Peredaran ternak bibit
Peredaran ini mencakup ternak bibit jantan maupun betina. Namun, karena penyediaan ternak bibit jantan dapat dilakukan melalui BIB Lembang atau BIB Singosari, sistem peredaran ternak bibit perlu difokuskan untuk ternak betina. Ternak bibit betina di sini didefinisikan sebagai ternak betina yang dipelihara hanya untuk menghasilkan pedet beberapa kali sampai betina tersebut dinyatakan tidak berfungsi lagi secara reproduktif. Dengan demikian, pola pengelolaannya mirip atau harus disamakan dengan pola yang digunakan pada ternak bibit jantan. Sistem pencatatan ternak ternak bibit betina, sertifikasi mutu, maupun standard minimal penampilannya perlu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan oleh perguruan tinggi atau lembaga penelitian atau asosiasi. Dengan dikembangkannya sistem tersebut, harga ternak bibit betina diharapkan akan menjadi lebih tinggi daripada ternak betina potong. Tanpa indikator kuantitatif yang jelas terhadap penampilan atau kinerja ternak bibit betina, upaya menghargai ternak bibit betina lebih daripada ternak betina potong akan sia-sia.
Untuk itu, peredaran ternak bibit betina harus terkontrol. Informasi tentang jumlah dan jenis ternak yang diedarkan, lokasi penyebaran (luar kota atau luar pulau atau bahkan luar negeri) harus tercatat dengan baik; dan yang lebih penting perlu disusunnya pedoman pengedaran ternak bibit betina oleh pemerintah bersama dengan lembaga independen lainnya yang peduli terhadap kesinambungan pengadaan ternak bibit betina.
Dr. Ir. Muladno, MSA
5. Pembinaan dan pengawasan mutu
Kenyataan selama ini menunjukkan bahwa program pemerintah melalui berbagai proyek memang memberikan hasil yang cukup menggembirakan tetapi masih perlu dioptimalkan. Adanya misi sosial dan konsep pemerataan pembangunan yang dipikul pemerintah sedikit banyak mempengaruhi pelaksanaan berbagai program pemerintah selama ini. Oleh karena itu, peran sektor swasta perlu lebih digalakkan dalam upaya membangunan industri ternak bibit. Pemerintah dapat lebih berperan sebagai pengawas atau pembina yang dengan otoritas-nya mengontrol mutu ternak bibit. Namun, akan lebih efektif apabila pengawasan mutu ternak bibit melibatkan peran swasta juga. Sertifikasi yang berkaitan dengan upaya pengawasan mutu dapat dilakukan swasta atas sepengetahuan/seijin pemerintah.
Skala Usaha Peternakan Sapi Potong
Lebih dari 90% peternak sapi potong di Indonesia adalah peternak rakyat yang merupakan usaha sambilan dan bukan sebagai usaha pokok. Ciri khas dari peternakan rakyat setidaknya adalah: (a) skala usaha relatif kecil (b) merupakan usaha rumah tangga (c) cara memeliharanya masih tradisional; dan seringkali ternak digunakan sebagai sumber tenaga kerja. Artinya peternak tidak mengangap penting usaha ini dan tidak mengharap-kan sebagai ternak penghasil daging. Dengan demikian, kualitas sapi yang dipelihara maupun kualitas daging yang dihasilkan tentu saja sangat diragukan. Upaya meningkatkan kualitas ternak maupun dagingnya sangat sulit dicapai karena sebagian besar masyarakatpun tidak menuntut standard tinggi tentang kualitas daging. Akhirnya, hal ini seperti lingkaran setan. Di satu sisi, peternak didorong untuk memelihara sapi secara lebih modern sehingga usaha peternakan dapat menjadi penghasilan pokoknya, di sisi lain masyarakat berharap memperoleh daging sapi dengan harga murah tanpa mempertimbangkan kualitasnya.
Namun demikian, apabila pola kebijakan pengembangan sapi potong masih berorientasi pada pola peternakan rakyat dengan ciri-ciri tersebut di atas, sulit untuk memenuhi kebutuhan daging di Indonesia dengan mengandalkan dari ternak lokal. Skala usaha peternakan harus ditingkatkan sampai jumlah minimum yang hasilnya layak untuk digunakan sebagai usaha pokok kehidupan peternak. Ini akan dapat dicapai dengan adanya dukungan modal, sistem kelembagaan dengan pola kerjasama kemitraan, dan input teknologi. Dengan demikian, usaha peternakan dapat dikelola secara lebih profesional dengan tetap berbasis pada keterlibatan masyarakat sehingga akan menjadikan usaha ternak sapi potong sebagai industri peternakan modern yang menghasilkan produk berkualitas.
Kumpulan Pemikiran
Peternak yang saat ini mengembangkan usaha peternakan rakyat dirangsang untuk meningkatkan skala usahanya, dengan campur tangan pemerintah atau swasta dalam hal penyediaan perangkat pendukungnya. Dalam hal ini kerjasama antara pemerintah, sektor swasta, perbankan dan asosiasi menjadi sangat penting untuk mencapai keberhasilannya. Namun satu hal terpenting adalah kualitas peternak itu sendiri. Perlu seleksi yang sangat ketat terhadap peternak yang akan ditingkatkan skala usahanya. Untuk ini perlu disiapkan sistem seleksi terhadap peternak, yang dapat saja melibatkan perguruan tinggi atau asosiasi untuk merancangnya.
Karena peternak menjadi subjek utama terhadap keberhasilan pengembangan industri peternakan sapi potong, peningkatan kualitas peternak mutlak harus dilakukan. Peningkatan keahlian dan keterampilan peternak harus diprogramkan secara sistematis dan terarah yang mencakup semua aspek manajemen on farm sejak fase pra produksi, produksi maupun masa panen, serta aspek pengelolaan produk pasca panen dan pemasaran. Sistem agroindustri dalam usaha ternak potong harus dikuasai secara baik oleh peternak sebagai pelaku utama.
Peningkatan Interaksi Antara Peternak
dan Lembaga Penelitian
Hampir semua menyadari bahwa selama ini industri peternakan dan lembaga penelitian (termasuk perguruan tinggi) tidak berjalan secara beriringan. Praktisi peternakan (peternak) dan peneliti bidang peternakan berjalan menurut relnya masing-masing. Peneliti melakukan suatu penelitian menurut kepakarannya yang bersifat ilmiah tetapi tidakmenyentuh apa yang dibutuhkan peternak, sedangkan peternak sendiri enggan untuk berkomuni-kasi dengan peneliti karena perbedaan latar belakang pendidikan. Ditambah dengan masalah kultur masyarakat Indonesia yang cenderung mengelom-pok pada masing-masing komunitasnya, semakin dalam jurang pemisah antara peternak dan peneliti
Fenomena tersebut, yang terasa semakin menghilang sejak Indonesia dilanda krisis ekonomi, harus dieliminir secara menyeluruh. Perpaduan antara potensi peneliti dengan latar belakang pendidikan formal tinggi (berwawasan keilmuan luas) dengan potensi peternak yang berlatar belakang pengalaman praktis pada lingkungan khas Indonesia akan menghasilkan teknologi tepat guna yang benar benar aplikatif bagi upaya pengembangan industri peternakan sapi potong di Jawa Barat khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Kekhususan pada Jawa Barat sangatlah beralasan karena di propinsi ini terdapat tiga perguruan tinggi negeri ternama masing-masing Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung dan Universitas Padjadjaran; dan puluhan lembaga penelitian yang bergerak di bidang pertanian dalam
Dr. Ir. Muladno, MSA
arti luas (termasuk peternakan). Balai Inseminasi Buatan Lembang, Balai Embrio Transfer Cipelang, Balai Penelitian ternak Ciawi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, dan masih banyak lagi.
Semakin gencarnya promosi pemerintah tentang pentingnya Hak Kekayaan Intelektual (HKI) juga mendorong peneliti untuk lebih memfokus-kan penelitiannya pada hal-hal praktis yang benar-benar dibutuhkan masyarakat pengguna. Penelitian yang dikerjakan dan dihasilkannya bersifat aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hal ini tentu saja membuka interaksi yang lebih intensif antara peneliti di lembaga penelitian/ perguruan tinggi) dengan peternak. Keduanya (peneliti dan peternak) harus saling proaktif untuk meciptakan temuan yang sesuai kebutuhan di lapangan. Dengan demikian, tidak akan ada lagi hasil penelitian yang berakhir di rak buku atau perpustakaan, tetapi akan dihasilkan teknologi yang aplikatif bagi masyarakat pengguna.
Pewilayahan Perbibitan
Penampilan suatu ternak merupakan representasi dari potensi genetiknya apabila seluruh faktor non-genetiknya dibuat seragam. Dengan demikian perbedaan penampilan antar ternak di dalam populasi juga merupakan representasi perbedaan genetik. Oleh karena itu, untuk keberhasilan pengembangan ternak bibit, penentuan wilayah yang dapat memenuhi syarat bagi pertumbuhan optimal ternak sapi potong dalam suatu lingkungan yang relatif seragam menjadi sangat penting.
Dalam konteks pengembangan ternak bibit di Jawa Barat, informasi tentang potensi wilayah yang memenuhi kriteria kestabilan faktor-faktor non-genetiknya (atau dapat dikatakn sebagai faktor lingkungan) meliputi daya dukung lahan, kecukupan ketersediaan pakan secara berkelanjutan, sumberdaya peternak, dan kultur masyarakatnya.
a. Daya dukung lahan pengembangan ternak bibit lebih dititik-bertakan pada kondisi alam dan lokasi peternakan. Topografi lahan yang menyangkut posisinya dari permukaan laut terkait dengan suhu, kelembaban udara dan jenis tanaman alam yang tumbuh secara alami. Selain itu jenis permukaan tanah (berbukit, bergunung, dataran rendah, dataran tinggi) perlu mendapat perhatian. Berkaitan dengan lokasi pemeliharaan, yang terpenting adalah bahwa lokasi yang akan digunakan tidak bertentangan dengan kepentingan umum masyarakat setempat; terjaminnya sistem pengelolaan limbah sehingga tak mencemari lingkungan; dan tidak bertentangan dengan tata ruang daerah. tidakdifokuskan kepada jenis tanah yang layak untuk pemeliharaan ternak atau dapat merupakan suatu luasan lahan yang tersedia penyakit ternak yang mungkin endemik di daerah Jawa Barat
Kumpulan Pemikiran
dan karakteristik geografi wilayahnya harus tersedia sehingga investor merasa yakin dan optimis akan keberhasilannya dalam menanam investasinya di industri perbibitan sapi potong.
b. Ketersediaan pakan harus ditinjau dari aspek kuantitas dan kualitas. Pakan merupakan salah satu faktor kunci untuk keberhasilan pengembangan ternak sapi bibit. Beberapa hal yang terkait dengan kecukupan pakan adalah: jenis pakan hijauan yang dapat ditanam di wilayah pengembangan; jumlah pakan yang dibutuhkan per ekor sapi harus tersedia sepanjang tahun. Teknologi penyimpanan pakan perlu dikembangkan untuk mengantisipasi kemarau panjang yang sering terjadi; pakan konsentrat yang bahan utamanya biasanya by-product pertanian menuntut agar wilayah pengembangan seharusnya berdekatan dengan wilayah pertanian.
c. Sumberdaya peternak, tidak dapat dihindari, merupakan subjek utama atas keberhasilan pengembangan usaha ternak bibit. Dalam melakukan pembinaan terhadap peternak atau rekrutmen peternak baru yang dipersiapkan menjadi pelaku-pelaku industri peternakan, tingkat keterampilan, motivasi tinggi untuk mengembangkan/meningkatkan produktivitas ternak serta pengetahuan tentang budidaya peternakan seharusnya menjadi acuan dalam membuat kriteria penentuan peternak yang perlu dibina atau peternak baru yang akan disiapkan menjadi pelaku industri peternakan.
d. Kultur masyarakat merupakan faktor penting yang harus dipertimbang-kan dalam menentukan wilayah pengembangan ternak sapi bibit. Walaupun dalam hal ini ada kecenderungan tidak menimbulkan masalah bagi masyarakat Jawa Barat sebagaimana biasanya terjadi pada babi, kajian dan evaluasi terhadap kultur masyarakat tetap perlu dilakukan untuk menghindari berbagai hal yang tidak diinginkan.
e. Berkaitan dengan upaya pengendalian dan pencegahan penyakit ternak sapi potong, penentuan wilayah yang bebas penyakit (khususnya yang menular) harus diprioritaskan untuk keberhasilan usaha perbibitan sapi.
Dukungan Lembaga Keuangan/Perbankan
Dalam pengembangan industri peternakan sapi potong, modal merupakan satu sumberdaya penting. Apalagi untuk investasi dalam usaha perbibitan sapi potong serta pembukaan kawasan baru untuk agroindustri sapi potong. Kebijakan khusus dalam permodalan harus diberlakukan untuk merangsang investor mau berinvestasi di usaha perbibitan yang tampaknya kurang menarik dibanding usaha penggemukan karena biaya proses produksi yang lebih mahal. Tidak seperti usaha penggemukan yang hanya
Dr. Ir. Muladno, MSA
memerlukan proses produksi tidak lebih dari tiga bulan, usaha perbibitan memerlukan waktu produksi yang lebih lama dengan pengelolaan yang lebih kompleks. Dalam upaya membuka kawasan baru usaha sapi potong, pola kerjasama inti-plasma yang selama ini juga berjalan untuk usaha ternak unggas merupakan model pengembangan yang sesuai bila dikaitkan juga dengan masalah permodalan. Petani peternak sebagai plasma dilibatkan dalam kepemilikan saham dalam perusahaan inti. Besarnya saham yang dimiliki didasarkan pada kontribusi awalnya dalam membuka kawasan baru usaha tersebut. Pola pengembangan yang melibatkan petani peternak terampil dan bermotivasi tinggi akan, bila berhasil, akan memacu pembentukan atau pembangunan idustri pendukung lain seperti industri pakan ternak, rumah potong hewan, fasilitas pemasaran, infrastruktur serta berbagai fasilitas lain yang memudahkan interaksi antara produsen dan konsumen produk usaha sapi potong.
Integrasi antar Subsistem Agribisnis Sapi Potong
Sebagaimana telah disinggung di depan, untuk kondisi wilayah dan kultur masyarakat Indonesia, industri peternakan sapi potong (khususnya perbibitan) perlu melibatkan dan mengaitkan kerjasama dengan petani peternakan rakyat dimana keberadaan dan peran peternak rakyat merupa-kan satu subsistem dalam suatu sistem agribisnis sapi potong. Dalam hal ini peran peternak hanya ditekankan pada pengelolaan secara teknis dalam budidaya, dengan pembinaan dan pengawasan dari perusahaan inti. Di lain pihak, perusahaan inti yang juga merupakan salah satu sub-sistem lain dalam satu mata rantai agroindustri, lebih menitik beratkan pada pengen-dalian mutu, yang mana hal ini membutuhkan manajemen perusahaan yang kuat dan profesional, penerapan teknologi yang tepat sehingga diperoleh efisiensi usaha yang tinggi. Untuk membantu kegiatan perusahaan inti, susb-sistem lain juga harus dibangun yang bergerak sebagai pemasok berbagai kebutuhan dalam proses produksi mulai dari pasokan pakan, pasokan bakalan, pasokan teknologi, jasa transportasi dan lain lain. Dalam membangun sub-sistem ini (pasokan berbagai faktor produksi), petani peternak dapat dilibatkan sebagaimana yang terjadi di dalam pola PIR selama ini.
Tanpa harus meninggalkan keterlibatan petani peternak, upaya membangun industri peternakan sapi potong yang sarat modal dan sarat teknologi juga perlu dipikirkan. Apabila teknologi feedlot telah lebih dahulu dikuasai atas kerjasama dengan pihak luar negeri seperti Australia, perlu dipikirkan juga masukan teknologi perbibitan dengan pola kerjasama dengan pihak luar negeri juga. Hal ini dalam rangka mempercepat terwujudnya industri peternakan sapi potong yang tangguh.
Kumpulan Pemikiran
Yang perlu dipertimbangkan juga dalam agribisnis peternakan sapi potong adalah masalah pemasaran. Ini harus dikaitkan dengan proses pengolahan dan pengendalian mutu daging sapi. Sedikitnya ada tiga hal pokok yang perlu menjadi perhatian, yaitu: (a) pola konsumsi pasar daging sapi di dalam negeri; (b) kebutuhan noma standard daging sapi untuk memenuhi pasaran daging berkualitas di dalam dan di luar negeri; (c) kebutuhan infrastruktur pelengkap untuk memenuhi norma-norma standard daging berkualitas.

SUMBER :http://www.muladno.com/book/PemikiranAkademi1/22-sapi%20potong-forkom.pdf

Universitas Diponegoro
Fakultas Perternakan Pertanian Universitas Diponegoro

PENGEMBANGAN INDUSTRI PETERNAKAN SAPI POTONG

Perbibitan
esulitan dalam memperoleh bibit sapi potong lokal secara kuantitas maupun kualitas secara berkelanjutan merupakan masalah utama yang harus segera diselesaikan. Kesulitan ini tampaknya lebih disebabkan oleh banyak faktor yang saling terkait. Mencari permasalahan tentang kesulitan tersebut sudah banyak dilakukan dan sering pula didiskusikan, tapi aksi untuk menyelesaikan kesulitan tersebut kurang/ belum dilakukan. Oleh karena itu, secara umum beberapa kebijakan yang seharusnya segera diimplementasikan dalam kegiatan aksi mutlak diperlukan.
Beberapa upaya pengembangan usaha perbibitan adalah:
1. Penentuan jenis ternak sapi.
Di Indonesia, berbagai jenis ternak sapi yang ada diklasifikan menjadi dua kelompok besar (Simanjuntak, 1999). Seluruh sapi di dalam masing-masing kelompok berpotensi dijadikan sebagai ternak bibit yang tentu saja didasarkan pada berbagai faktor. Pertama, kelompok sapi asli yang meliputi: sapi Bali, sapi Madura, sapi Sumba Ongole (SO), sapi Peranakan Ongole (PO), sapi Pesisir, sapi Aceh, dan sapi Hissar. Kedua, kelompok sapi persilangan dengan bangsa sapi import yang meliputi: sapi Simmental, sapi Limousin, sapi Angus, sapi Brahman, sapi Brangus.
Pada umumnya, keunggulan yang dimilik oleh sapi lokal Indonesia adalah: daya adaptasi tinggi; tingkat kesuburan tinggi, persentase karkas lebih tinggi, dapat digunakan sebagai tenaga kerja; dan daya tahan terhadap caplak. Adapun sapi persilangan biasanya unggul dalam hal: pertumbuhan bobot badan yang tinggi; dan mempunyai kualitas daging lebih baik. Keduanya juga memiliki kelemahan. Kerugian bila menggunakan sapi lokal sebagai ternak bibit
K
Dr. Ir. Muladno, MSA
adalah: kematian pedet relatif tinggi; masih memperlihatkan sifat liar, rentan terhadap penyakit tertentu; badannya kecil; dan pertambahan bobot badan relatif rendah. Namun bila menggunakan ternak bibit import, kerugiannya meliputi: tidak tahan terhadap kondisi lingkungan jelek dan rentan terhadap berbagai penyakit yang ada di daerah tropis.
Yang perlu diperhatikan dalam penentuan jenis ternak tidak hanya berdasarkan sifat-sifat kuantitatif yang menguntungkan saja tetapi juga dipertimbangkan sifat kualitatifnya seperti warna sapi.
2. Perbaikan mutu ternak bibit
Untuk mendapatkan ternak bibit yang baik, upaya meningkatkan mutu ternak bibit khususnya bila menggunakan ternak lokal perlu dilakukan. Di dalam program pemuliaan, ada dua pendekatan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu tersebut, yaitu: seleksi dan persilangan. Pendekatan pertama (seleksi) untuk sifat kuantitatif yang bernilai ekonomis (seperti pertambahan berat badan, efisiensi penggunaan pakan, dan kualitas karkas) harus dilakukan di suatu wilayah yang populasi sapinya sejenis dan dalam jumlah banyak. Kondisi semacam ini harus dicapai untuk memperoleh tingkat keberhasilan yang tinggi dalam sistem seleksi, karena semakin tinggi jumlah ternak dalam suatu populasi, intensitas seleksinya juga semakin kuat sehingga ternak yang terseleksi benar-benar bermutu tinggi. Seleksi juga penting diterapkan dalam konteks pemilihan ternak betina pengganti (replacement stock) bagi ternak betina berkualitas buruk dan atau ternak betina tua. Pendekatan kedua (persilangan) akan sangat efektif dilakukan melalui perkawinan antara ternak lokal yang terseleksi untuk sifat-sifat kuantititaf yang diinginkan dengan ternak import yang juga telah diseleksi berdasarkan sifat yang diinginkan. Ini dapat dilakukan melalui perkawainan alam, tetapi akan lebih efisien dengan memanfaatkan teknik inseminasi buatan. Walaupun aplikasi bio-teknologi (baik reproduksi maupun rekayasa genetik) dalam pening-katan produktivitas ternak tampak semakin menjajikan, tingginya biaya pengoperasian masih menjadi kendala untuk menggunakan teknologi tersebut. Dalam banyak hal, penerapan bioteknologi masih sangat memerlukan peran dan bantuan pemerintah pusat.
Program pemuliaan tersebut akan dapat berjalan dengan baik apabila didukung dengan sistem pencatatan yang tertib, sistematis, dan berkesinambungan. Sistem pencatatan difokuskan pada sifat-sifat kuantitatif penting dari ternak dan dibuat sedemikian rupa sehingga dapat diterapkan secara mudah oleh peternak, pegawai pemerintah dan siapapun yang dilibatkan. Keterlibatan asosiasi, kelompok peternak, perguruan tinggi atau lembaga penelitian sangat diperlukan untuk keberhasilan dalam pencatatan tersebut.
Kumpulan Pemikiran
3. Perbanyakan jumlah ternak bibit
Penyediaan ternak bibit lokal sebagai populasi dasar dapat dipenuhi melalui pengambilan ternak dari berbagai wilayah yang dikenal sebagai kantong-kantong ternak berpopulasi tinggi atau diperoleh melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) milik pemerintah seperti Balai Inseminasi Buatan (BIB) Singosari dan BIB Lembang. Dari ketersediaan ternak pilihan ini, kemudian dilakukan program pemuliaan di suatu kawasan yang melibatkan petani peternak dalam suatu sistem pembibitan Village Breeding Center (VBC). Sistem ini akan lebih efektif apabila dalam pelaksanaannya dikelola melalui program kemitraan antara swasta (sebagai pemodal), peternak (sebagai pelak-sana) dan pemerintah/perguruan tinggi/lembaga penelitian/asosiasi (sebagai pembina). Program semacam ini juga diharapkan agar seluruh ternak bibit yang dihasilkan dari program pemeuliaan ini dapat secara berkesinambungan digunakan sebagai bahan dasar untuk perbanyakan sehingga pemenuhan kebutuhan ternak bibit yang berkualitas secara terus menerus dapat terjamin.
4. Peredaran ternak bibit
Peredaran ini mencakup ternak bibit jantan maupun betina. Namun, karena penyediaan ternak bibit jantan dapat dilakukan melalui BIB Lembang atau BIB Singosari, sistem peredaran ternak bibit perlu difokuskan untuk ternak betina. Ternak bibit betina di sini didefinisikan sebagai ternak betina yang dipelihara hanya untuk menghasilkan pedet beberapa kali sampai betina tersebut dinyatakan tidak berfungsi lagi secara reproduktif. Dengan demikian, pola pengelolaannya mirip atau harus disamakan dengan pola yang digunakan pada ternak bibit jantan. Sistem pencatatan ternak ternak bibit betina, sertifikasi mutu, maupun standard minimal penampilannya perlu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan oleh perguruan tinggi atau lembaga penelitian atau asosiasi. Dengan dikembangkannya sistem tersebut, harga ternak bibit betina diharapkan akan menjadi lebih tinggi daripada ternak betina potong. Tanpa indikator kuantitatif yang jelas terhadap penampilan atau kinerja ternak bibit betina, upaya menghargai ternak bibit betina lebih daripada ternak betina potong akan sia-sia.
Untuk itu, peredaran ternak bibit betina harus terkontrol. Informasi tentang jumlah dan jenis ternak yang diedarkan, lokasi penyebaran (luar kota atau luar pulau atau bahkan luar negeri) harus tercatat dengan baik; dan yang lebih penting perlu disusunnya pedoman pengedaran ternak bibit betina oleh pemerintah bersama dengan lembaga independen lainnya yang peduli terhadap kesinambungan pengadaan ternak bibit betina.
Dr. Ir. Muladno, MSA
5. Pembinaan dan pengawasan mutu
Kenyataan selama ini menunjukkan bahwa program pemerintah melalui berbagai proyek memang memberikan hasil yang cukup menggembirakan tetapi masih perlu dioptimalkan. Adanya misi sosial dan konsep pemerataan pembangunan yang dipikul pemerintah sedikit banyak mempengaruhi pelaksanaan berbagai program pemerintah selama ini. Oleh karena itu, peran sektor swasta perlu lebih digalakkan dalam upaya membangunan industri ternak bibit. Pemerintah dapat lebih berperan sebagai pengawas atau pembina yang dengan otoritas-nya mengontrol mutu ternak bibit. Namun, akan lebih efektif apabila pengawasan mutu ternak bibit melibatkan peran swasta juga. Sertifikasi yang berkaitan dengan upaya pengawasan mutu dapat dilakukan swasta atas sepengetahuan/seijin pemerintah.
Skala Usaha Peternakan Sapi Potong
Lebih dari 90% peternak sapi potong di Indonesia adalah peternak rakyat yang merupakan usaha sambilan dan bukan sebagai usaha pokok. Ciri khas dari peternakan rakyat setidaknya adalah: (a) skala usaha relatif kecil (b) merupakan usaha rumah tangga (c) cara memeliharanya masih tradisional; dan seringkali ternak digunakan sebagai sumber tenaga kerja. Artinya peternak tidak mengangap penting usaha ini dan tidak mengharap-kan sebagai ternak penghasil daging. Dengan demikian, kualitas sapi yang dipelihara maupun kualitas daging yang dihasilkan tentu saja sangat diragukan. Upaya meningkatkan kualitas ternak maupun dagingnya sangat sulit dicapai karena sebagian besar masyarakatpun tidak menuntut standard tinggi tentang kualitas daging. Akhirnya, hal ini seperti lingkaran setan. Di satu sisi, peternak didorong untuk memelihara sapi secara lebih modern sehingga usaha peternakan dapat menjadi penghasilan pokoknya, di sisi lain masyarakat berharap memperoleh daging sapi dengan harga murah tanpa mempertimbangkan kualitasnya.
Namun demikian, apabila pola kebijakan pengembangan sapi potong masih berorientasi pada pola peternakan rakyat dengan ciri-ciri tersebut di atas, sulit untuk memenuhi kebutuhan daging di Indonesia dengan mengandalkan dari ternak lokal. Skala usaha peternakan harus ditingkatkan sampai jumlah minimum yang hasilnya layak untuk digunakan sebagai usaha pokok kehidupan peternak. Ini akan dapat dicapai dengan adanya dukungan modal, sistem kelembagaan dengan pola kerjasama kemitraan, dan input teknologi. Dengan demikian, usaha peternakan dapat dikelola secara lebih profesional dengan tetap berbasis pada keterlibatan masyarakat sehingga akan menjadikan usaha ternak sapi potong sebagai industri peternakan modern yang menghasilkan produk berkualitas.
Kumpulan Pemikiran
Peternak yang saat ini mengembangkan usaha peternakan rakyat dirangsang untuk meningkatkan skala usahanya, dengan campur tangan pemerintah atau swasta dalam hal penyediaan perangkat pendukungnya. Dalam hal ini kerjasama antara pemerintah, sektor swasta, perbankan dan asosiasi menjadi sangat penting untuk mencapai keberhasilannya. Namun satu hal terpenting adalah kualitas peternak itu sendiri. Perlu seleksi yang sangat ketat terhadap peternak yang akan ditingkatkan skala usahanya. Untuk ini perlu disiapkan sistem seleksi terhadap peternak, yang dapat saja melibatkan perguruan tinggi atau asosiasi untuk merancangnya.
Karena peternak menjadi subjek utama terhadap keberhasilan pengembangan industri peternakan sapi potong, peningkatan kualitas peternak mutlak harus dilakukan. Peningkatan keahlian dan keterampilan peternak harus diprogramkan secara sistematis dan terarah yang mencakup semua aspek manajemen on farm sejak fase pra produksi, produksi maupun masa panen, serta aspek pengelolaan produk pasca panen dan pemasaran. Sistem agroindustri dalam usaha ternak potong harus dikuasai secara baik oleh peternak sebagai pelaku utama.
Peningkatan Interaksi Antara Peternak
dan Lembaga Penelitian
Hampir semua menyadari bahwa selama ini industri peternakan dan lembaga penelitian (termasuk perguruan tinggi) tidak berjalan secara beriringan. Praktisi peternakan (peternak) dan peneliti bidang peternakan berjalan menurut relnya masing-masing. Peneliti melakukan suatu penelitian menurut kepakarannya yang bersifat ilmiah tetapi tidakmenyentuh apa yang dibutuhkan peternak, sedangkan peternak sendiri enggan untuk berkomuni-kasi dengan peneliti karena perbedaan latar belakang pendidikan. Ditambah dengan masalah kultur masyarakat Indonesia yang cenderung mengelom-pok pada masing-masing komunitasnya, semakin dalam jurang pemisah antara peternak dan peneliti
Fenomena tersebut, yang terasa semakin menghilang sejak Indonesia dilanda krisis ekonomi, harus dieliminir secara menyeluruh. Perpaduan antara potensi peneliti dengan latar belakang pendidikan formal tinggi (berwawasan keilmuan luas) dengan potensi peternak yang berlatar belakang pengalaman praktis pada lingkungan khas Indonesia akan menghasilkan teknologi tepat guna yang benar benar aplikatif bagi upaya pengembangan industri peternakan sapi potong di Jawa Barat khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Kekhususan pada Jawa Barat sangatlah beralasan karena di propinsi ini terdapat tiga perguruan tinggi negeri ternama masing-masing Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung dan Universitas Padjadjaran; dan puluhan lembaga penelitian yang bergerak di bidang pertanian dalam
Dr. Ir. Muladno, MSA
arti luas (termasuk peternakan). Balai Inseminasi Buatan Lembang, Balai Embrio Transfer Cipelang, Balai Penelitian ternak Ciawi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, dan masih banyak lagi.
Semakin gencarnya promosi pemerintah tentang pentingnya Hak Kekayaan Intelektual (HKI) juga mendorong peneliti untuk lebih memfokus-kan penelitiannya pada hal-hal praktis yang benar-benar dibutuhkan masyarakat pengguna. Penelitian yang dikerjakan dan dihasilkannya bersifat aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hal ini tentu saja membuka interaksi yang lebih intensif antara peneliti di lembaga penelitian/ perguruan tinggi) dengan peternak. Keduanya (peneliti dan peternak) harus saling proaktif untuk meciptakan temuan yang sesuai kebutuhan di lapangan. Dengan demikian, tidak akan ada lagi hasil penelitian yang berakhir di rak buku atau perpustakaan, tetapi akan dihasilkan teknologi yang aplikatif bagi masyarakat pengguna.
Pewilayahan Perbibitan
Penampilan suatu ternak merupakan representasi dari potensi genetiknya apabila seluruh faktor non-genetiknya dibuat seragam. Dengan demikian perbedaan penampilan antar ternak di dalam populasi juga merupakan representasi perbedaan genetik. Oleh karena itu, untuk keberhasilan pengembangan ternak bibit, penentuan wilayah yang dapat memenuhi syarat bagi pertumbuhan optimal ternak sapi potong dalam suatu lingkungan yang relatif seragam menjadi sangat penting.
Dalam konteks pengembangan ternak bibit di Jawa Barat, informasi tentang potensi wilayah yang memenuhi kriteria kestabilan faktor-faktor non-genetiknya (atau dapat dikatakn sebagai faktor lingkungan) meliputi daya dukung lahan, kecukupan ketersediaan pakan secara berkelanjutan, sumberdaya peternak, dan kultur masyarakatnya.
a. Daya dukung lahan pengembangan ternak bibit lebih dititik-bertakan pada kondisi alam dan lokasi peternakan. Topografi lahan yang menyangkut posisinya dari permukaan laut terkait dengan suhu, kelembaban udara dan jenis tanaman alam yang tumbuh secara alami. Selain itu jenis permukaan tanah (berbukit, bergunung, dataran rendah, dataran tinggi) perlu mendapat perhatian. Berkaitan dengan lokasi pemeliharaan, yang terpenting adalah bahwa lokasi yang akan digunakan tidak bertentangan dengan kepentingan umum masyarakat setempat; terjaminnya sistem pengelolaan limbah sehingga tak mencemari lingkungan; dan tidak bertentangan dengan tata ruang daerah. tidakdifokuskan kepada jenis tanah yang layak untuk pemeliharaan ternak atau dapat merupakan suatu luasan lahan yang tersedia penyakit ternak yang mungkin endemik di daerah Jawa Barat
Kumpulan Pemikiran
dan karakteristik geografi wilayahnya harus tersedia sehingga investor merasa yakin dan optimis akan keberhasilannya dalam menanam investasinya di industri perbibitan sapi potong.
b. Ketersediaan pakan harus ditinjau dari aspek kuantitas dan kualitas. Pakan merupakan salah satu faktor kunci untuk keberhasilan pengembangan ternak sapi bibit. Beberapa hal yang terkait dengan kecukupan pakan adalah: jenis pakan hijauan yang dapat ditanam di wilayah pengembangan; jumlah pakan yang dibutuhkan per ekor sapi harus tersedia sepanjang tahun. Teknologi penyimpanan pakan perlu dikembangkan untuk mengantisipasi kemarau panjang yang sering terjadi; pakan konsentrat yang bahan utamanya biasanya by-product pertanian menuntut agar wilayah pengembangan seharusnya berdekatan dengan wilayah pertanian.
c. Sumberdaya peternak, tidak dapat dihindari, merupakan subjek utama atas keberhasilan pengembangan usaha ternak bibit. Dalam melakukan pembinaan terhadap peternak atau rekrutmen peternak baru yang dipersiapkan menjadi pelaku-pelaku industri peternakan, tingkat keterampilan, motivasi tinggi untuk mengembangkan/meningkatkan produktivitas ternak serta pengetahuan tentang budidaya peternakan seharusnya menjadi acuan dalam membuat kriteria penentuan peternak yang perlu dibina atau peternak baru yang akan disiapkan menjadi pelaku industri peternakan.
d. Kultur masyarakat merupakan faktor penting yang harus dipertimbang-kan dalam menentukan wilayah pengembangan ternak sapi bibit. Walaupun dalam hal ini ada kecenderungan tidak menimbulkan masalah bagi masyarakat Jawa Barat sebagaimana biasanya terjadi pada babi, kajian dan evaluasi terhadap kultur masyarakat tetap perlu dilakukan untuk menghindari berbagai hal yang tidak diinginkan.
e. Berkaitan dengan upaya pengendalian dan pencegahan penyakit ternak sapi potong, penentuan wilayah yang bebas penyakit (khususnya yang menular) harus diprioritaskan untuk keberhasilan usaha perbibitan sapi.
Dukungan Lembaga Keuangan/Perbankan
Dalam pengembangan industri peternakan sapi potong, modal merupakan satu sumberdaya penting. Apalagi untuk investasi dalam usaha perbibitan sapi potong serta pembukaan kawasan baru untuk agroindustri sapi potong. Kebijakan khusus dalam permodalan harus diberlakukan untuk merangsang investor mau berinvestasi di usaha perbibitan yang tampaknya kurang menarik dibanding usaha penggemukan karena biaya proses produksi yang lebih mahal. Tidak seperti usaha penggemukan yang hanya
Dr. Ir. Muladno, MSA
memerlukan proses produksi tidak lebih dari tiga bulan, usaha perbibitan memerlukan waktu produksi yang lebih lama dengan pengelolaan yang lebih kompleks. Dalam upaya membuka kawasan baru usaha sapi potong, pola kerjasama inti-plasma yang selama ini juga berjalan untuk usaha ternak unggas merupakan model pengembangan yang sesuai bila dikaitkan juga dengan masalah permodalan. Petani peternak sebagai plasma dilibatkan dalam kepemilikan saham dalam perusahaan inti. Besarnya saham yang dimiliki didasarkan pada kontribusi awalnya dalam membuka kawasan baru usaha tersebut. Pola pengembangan yang melibatkan petani peternak terampil dan bermotivasi tinggi akan, bila berhasil, akan memacu pembentukan atau pembangunan idustri pendukung lain seperti industri pakan ternak, rumah potong hewan, fasilitas pemasaran, infrastruktur serta berbagai fasilitas lain yang memudahkan interaksi antara produsen dan konsumen produk usaha sapi potong.
Integrasi antar Subsistem Agribisnis Sapi Potong
Sebagaimana telah disinggung di depan, untuk kondisi wilayah dan kultur masyarakat Indonesia, industri peternakan sapi potong (khususnya perbibitan) perlu melibatkan dan mengaitkan kerjasama dengan petani peternakan rakyat dimana keberadaan dan peran peternak rakyat merupa-kan satu subsistem dalam suatu sistem agribisnis sapi potong. Dalam hal ini peran peternak hanya ditekankan pada pengelolaan secara teknis dalam budidaya, dengan pembinaan dan pengawasan dari perusahaan inti. Di lain pihak, perusahaan inti yang juga merupakan salah satu sub-sistem lain dalam satu mata rantai agroindustri, lebih menitik beratkan pada pengen-dalian mutu, yang mana hal ini membutuhkan manajemen perusahaan yang kuat dan profesional, penerapan teknologi yang tepat sehingga diperoleh efisiensi usaha yang tinggi. Untuk membantu kegiatan perusahaan inti, susb-sistem lain juga harus dibangun yang bergerak sebagai pemasok berbagai kebutuhan dalam proses produksi mulai dari pasokan pakan, pasokan bakalan, pasokan teknologi, jasa transportasi dan lain lain. Dalam membangun sub-sistem ini (pasokan berbagai faktor produksi), petani peternak dapat dilibatkan sebagaimana yang terjadi di dalam pola PIR selama ini.
Tanpa harus meninggalkan keterlibatan petani peternak, upaya membangun industri peternakan sapi potong yang sarat modal dan sarat teknologi juga perlu dipikirkan. Apabila teknologi feedlot telah lebih dahulu dikuasai atas kerjasama dengan pihak luar negeri seperti Australia, perlu dipikirkan juga masukan teknologi perbibitan dengan pola kerjasama dengan pihak luar negeri juga. Hal ini dalam rangka mempercepat terwujudnya industri peternakan sapi potong yang tangguh.
Kumpulan Pemikiran
Yang perlu dipertimbangkan juga dalam agribisnis peternakan sapi potong adalah masalah pemasaran. Ini harus dikaitkan dengan proses pengolahan dan pengendalian mutu daging sapi. Sedikitnya ada tiga hal pokok yang perlu menjadi perhatian, yaitu: (a) pola konsumsi pasar daging sapi di dalam negeri; (b) kebutuhan noma standard daging sapi untuk memenuhi pasaran daging berkualitas di dalam dan di luar negeri; (c) kebutuhan infrastruktur pelengkap untuk memenuhi norma-norma standard daging berkualitas.

SUMBER :http://www.muladno.com/book/PemikiranAkademi1/22-sapi%20potong-forkom.pdf